Maaf Ibu, Aku Belum Sehebat Do’amu


EN Kelas – Delapan tahun sudah berlalu sejak kepergianmu, Bu, tepat pada 5 Maret 2018. Waktu memang terus berjalan, tetapi kerinduan ini tidak pernah surut. Setiap senja selepas Maghrib, aku masih bisa merasakan bayanganmu duduk di atas sajadah, melafalkan Surat Al-Waqi’ah, lalu menutupnya dengan doa panjang. Doa yang kau panjatkan bukan sekadar untukku, melainkan agar aku kelak menjadi manusia yang berguna bagi sesama, nusa, bangsa, dan agama.

Doa itu kini hanya tinggal kenangan, namun tetap hidup di dalam hatiku. Ia hadir sebagai cahaya yang menuntun langkahku, meski aku sering merasa belum mampu. Dalam hening yang penuh rindu, aku berbisik lirih: “Maaf Bu, ternyata aku belum sehebat do’amu.” Kalimat itu lahir dari kesadaran bahwa doa-doamu selalu lebih tinggi daripada pencapaianku, dan dari kerinduan yang tak pernah selesai pada sosokmu.

Ibu Aku Tahau

Aku tahu, Bu, doa itu bukan beban. Ia adalah warisan batin, pelukan yang tak pernah lepas meski ragamu sudah tiada. Doa itu membuatku bangkit setiap kali aku jatuh, menguatkanku setiap kali aku merasa lemah. Kau berharap aku menjadi manusia yang memberi manfaat, dan aku sedang belajar mewujudkannya, meski langkahku masih tertatih.

Kerinduan ini membuatku sadar: doa ibu adalah kompas hidup. Meski kau sudah tiada, arah yang kau tunjukkan tetap jelas. Aku mungkin belum sehebat doa yang kau panjatkan, tapi setiap usaha kecilku, setiap kebaikan yang aku lakukan, adalah cara sederhana untuk menjawab cintamu.

Kini aku mengerti bahwa doa seorang ibu bukan hanya permintaan kepada Tuhan, melainkan juga pesan yang dititipkan kepada anak-anaknya. Doa itu adalah harapan yang melampaui waktu, yang tetap hidup meski suara yang mengucapkannya telah tiada. Ia menjadi pengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang memberi manfaat bagi orang lain.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku kembali teringat pada wajahmu yang teduh, pada doa yang kau bisikkan dengan penuh keyakinan. Dari sanalah aku belajar bahwa cinta seorang ibu tidak pernah hilang, ia hanya berganti bentuk: dari doa yang terucap menjadi cahaya yang menuntun, dari kehadiran yang nyata menjadi kenangan yang menguatkan.


EN kelas

Mari belajar yang sederhana, berbagi yang tulus, dan menghadirkan makna nyata bagi kehidupan.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Maaf Ibu, Aku Belum Sehebat Do\'amu
Share via